Selasa, 30 Juni 2009

Pemilu dan Efek Rumah Kaca

Sepanjang senja hari ini, tidak banyak aktivitas yang aku lakukan di dunia maya. Blogwalking, chatting, juga browsing hanya sesaat saja. Bukan trauma karena pagerank-ku yang melorot ke titik nadir, bukan pula sakit hati lantaran 'mbah Google tak sudi bermurah hati, namun karena perhatianku sedikit teralihkan dengan berbagai berita hangat di layar kaca seputar pemilu capres dan cawapres yang tinggal beberapa hari lagi.

Perdebatan, adu argumentasi, saling sindir, dan sedikit saling serang diantara calon presiden dan wakil presiden, dan dibumbui oleh berbagai pembelaan dan pembenaran oleh tim suksesnya, serta sikap fanatisme para pendukung dari ketiga kubu membuat petunjukkan di panggung demokrasi itu kian meriah. Apalagi dengan diangkatnya issu-issu negatif dan berbagai intrik-intrik politik.

Dan lebih dari itu, menurut analisis para pengamat politik dan komentar para cendikia, bahwa mendekati hari-hari penentuan siapa yang paling pantas melenggang ke istana, dan menduduki kursi penguasa negara, tanggal 8 Juli mendatang, suhu politik di negeri ini terasa makin memanas layaknya seseorang yang sedang sakit demam. Hanya saja berapa derajat peningkatan suhunya, tak bisa diukur dengan thermometer.

Menyikapi fenomena yang tengah terjadi ini, kalau iseng-iseng kita renungkan dan lebih asyik lagi kalau merenungkannya dengan duduk santai di kursi goyang sambil memandang indahnya sinar mentari diujung senja, tanpa kita disadari penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan itu tak ubahnya seperti Efek Rumah Kaca (Greenhouse Effect). Ya, sebuah fenomena alam yang pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier tahun 1824, yaitu pemanasan permukaan bumi dikarenakan keberadaan atmosfir yang mengandung gas yang menyerap dan mengeluarkan radiasi infra merah. Fenomena Efek Rumah Kaca ini dianggap sebagai biang kerok terjadinya Pemanasan Global (Global Warming).

Menurut para ahli, pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub sehingga naiknya permukaan air laut dan...... suatu ketika akan banyak daratan yang tenggelam. Hihihi........ ngeri yah!

Dan fenomena yang hampir sama juga terjadi di kancah politik bahwa apabila peningkatan suhu politik menjelang hari-H ini tidak terkendali akan berefek negatif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni melelehkan semangat kerukunan, kesetiakawanan, dan kesatuan bangsa karena meningkatnya fanatisme berlebihan terhadap kelompok, partai, suku, bahkan agama dengan mengabaikan kepentingan bangsa dan negara yang lebih luas.

Namun, semoga saja kekhawatiran itu hanyalah ilusi dan mimpi di malam jumat kliwon saja. Semoga semua pihak masih mengedepankan kepentingan yang lebih besar, yaitu bangsa dan negara. Juga menyadari bahwa terselenggaranya pemilu damai adalah jauh lebih penting dari memperdebatkan siapa yang menang dan siapa yang menjadi pecundang.

Selamat menentukan pilihan! Mari kitu sukseskan Pemilu Damai!

2 komentar:

Strodong mengatakan...

Turut berduka cita kang atas anjlok pagerank blog ini, tapi jangan cemberut gitu dumz mesti semangat lagi kang ayo semangat. heueheuhu menarik juga tuh pemilu capres dikaitkan dengan pemanasan global yang nimbulin efek kaca. jeueheuheuehu bedanya pemanasan global di pemilu karena suhu politiknya. :D ayo kang semangat !!!!

Edwin Prasetio mengatakan...

Kalau suhu panas efek rumah kaca, karbondioksida terperangkap di atmosfer karena pohon di bumi semakin sedikit dan tdk bisa menyerap co2 itu.
Nah kalau suhu panas efek mau pemili presiden, janji2 capres 'up in the air', banyak 'pohonnya' sih, yaitu rakyat. Nah, sekarang tinggal janji2 itu 'diserap' atau ngga oleh rakyat. Kalo ternyata 'diserap' (baca: termakan janji manis), harusnya suasana pemilu bakal adem to Mas... :)
.
SALAM KENAL...

Posting Komentar