Sabtu, 13 Juni 2009

Faster, Better

Saat menikmati bagaimana seru dan mendebarkannya pertarungan untuk menjadi yang tercepat dan yang terbaik di ajang balap motor paling bergengsi, antara sang maestro, Valentino Rossi, dengan rekan satu timnya, Jorge Lorenzo, di Sirkuit Catalunya Spanyol malam tadi, tiba-tiba saja terlintas di benakku akan jargon dari salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden yang sedang meniti tangga Istana Merdeka. Sebuah jargon kampanye pasangan JK-Wiranto, yang sekaligus juga menjadi positioning mereka dalam kancah persaingan dengan kandidat lainnya, Mega-Prabowo dan SBY-Boediono.

Namun, sebelum melanjutkan, aku mohon maaf, hehehe..... tulisanku ini sama sekali tidak ada urusannya dengan dukung-mendukung duet capres dan cawapres bernomor urut-3 tersebut. Hanya saja, sebagai salah seorang fans-nya sang raja motogp, slogan LEBIH CEPAT LEBIH BAIK sangat menarik sebagai bahan renungan dalam menjalani hidup dan kehidupanku di dunia nyata.

Dan, sejatinya, di tengah kehidupan modern saat ini, yang penuh dinamika, tantangan, rintangan, dan persaingan, kecepatan bertindak, bersikap, memutuskan, dan merespon merupakan salah satu kunci meraih sukses. Lebih-lebih dalam dunia bisnis, keterlambatan merespon perubuhan selera konsumen, keterlambatan mengantisipasi persaingan, keterlambatan melakukan inovasi dan pengembangan produk baru, keterlambatan dalam penguasaan pikiran konsumen akan berujung kepada kegagalan yang menyakitkan.

Prinsip kecepatan itu pulalah yang telah diterapkan oleh seorang CEO paling legendaris, Jack Welch yang telah menjadikan perusahaannya General Electric menjadi salah satu perusahaan yang terbesar dan terbaik di dunia. Contoh lain adalah bagaimana perusahaan-perusahaan Jepang yang mampu tumbuh menjadi raksasa bisnis kelas dunia dengan menerapkan strategi perang 'The Way of The Samurai' yang salah satu prinsip dasarnya adalah 'speed is the essence of war'.

Hampir setiap profesi memerlukan unsur kecepatan. Seorang jurnalis harus cepat membuat laporan atau berita, seorang karyawan diminta cepat menuntaskan pekerjaannya, seorang koki dituntut cepat membuat masakannya, dan tentu saja seorang blogger pun perlu cepat menangkap keinginan 'mbah Google dan kesukaannya si nona Alexa kalau blog kita ingin lebih populer.

Tentu saja, cepat bukan berarti tanpa perhitungan, tanpa perencanaan, dan tanpa analisa mendalam atas setiap tindakan dan pengambilan keputusan. Cepat bukan pula diartikan tergesa-gesa, terburu-buru, dan asal melakukan. Cepat bermakna responsif bukan reaktif.

So, salam sukses untuk para blogger mania!