Sabtu, 08 Agustus 2009

Selamat Jalan Sang Legenda

Padahal belumlah kering air mata ini saat mengiringi kepergian sang pelantun lagu 'Tak Gendong' itu ke pangkuan Tuhan beberapa hari silam. Padahal masih terngiang isak tangis para keluarga, sahabat, dan penggemarnya saat mengantar sang penyanyi gimbal yang fenomenal itu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Padahal masih ada duka dalam dada ini saat harus kehilangan untuk selama-lamanya sang seniman jalanan yang lewat karya-karyanya yang 'aneh dan lucu' namun dapat menjadi 'obat penawar stress' di tengah kepenatan menjalani hidup saat ini.

Namun, tidak lama berselang, seorang budayawan ternama, penyair dan sastrawan hebat, W.S. Rendra telah tiada. Ia telah meninggalkan kita semua di usia senja. Kini, Si Burung Merak itu tengah terbang menuju istana keabadian menyusul sahabat sejatinya, Mbah Surip. Kaget dan sedih yang tak bisa disembunyikan. Lagi-lagi kita harus merelakan kehilangan orang-orang yang telah memberikan arti dan warna bagi kehidupan anak-anak bangsa di negeri ini.

Selamat jalan sang legenda!
Semoga engkau tenang di alam baqa.

Memang engkau telah tiada, meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Memang engkau tak akan bisa menyapa kita lagi lewat gaya dan ekspresimu yang telah melegenda. Namun, semua karsa dan karyamu tak akan pernah hilang dalam ingatan anak-anak negeri ini. Puisi-puisimu akan selalu dibacakan dalam setiap kesempatan, gaya panggungmu yang menawan akan selalu dikenang sepanjang masa, sikap kritismu yang merupakan harta tak ternilai akan diwariskan dari generasi ke generasi, dan semangat juangmu hingga akhir hayat telah memberi motiasi dan inspirasi bagi seluruh anak negeri ini.

Memang engkau telah tiada. Namun kepergianmu tidaklah sia-sia. Karena engkau adalah laksana gajah yang mati dengan meninggalkan gadingnya, ataupun laksana harimau yang mati dengan meninggalkan belangnya. Dan kita bisa mengambil hikmah darinya, agar hidup kita dapat memberi makna pada sesama. Agar kepergian kita ditangisi, bukan dicaci. Akar kepulangan kita dikenang, bukan dibuang.

Kini, sang legenda tengah menghadap Tuhan. Para pengantarpun satu demi satu mulai meninggalkan tempat pemakaman dengan penuh kesedihan. Namun jangan pernah kita lupakan, karena kitapun pasti akan pulang ke haribaan Tuhan. Walau tak pernah ada yang tahu kapan kematian itu datang. Boleh jadi hari ini kita mengantar, esok lusa kita diantar. Boleh jadi hari ini kita yang mengubur, esok lusa kita yang dikubur. Karena inilah fitrah kehidupan.