Senin, 10 Agustus 2009

Lebih Baik Tidak Sakit Gigi

Saya belum paham betul alasan mengapa Meggi Z. dalam salah satu lagunya mengatakan bahwa, daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi. Karena menurutku, kedua-duanya bukanlah pilihan. Dan kalau boleh memilih, lebih baik tidak sakit hati dan tidak sakit gigi. Hehehe....

Walaupun barangkali 'sakit hati' lebih lebih susah dicari obat penawarnya, lebih sulit didiagnosanya, lebih lama disembuhkannya, serta lebih sakit dirasakannya, ternyata, sakit gigi pun bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Emang sih, mana ada sakit yang enak, bukan?

Ternyata sakit gigi tetaplah menyakitkan. Dan itulah yang sedang kualami sejak kemarin pagi hingga hari ini. Salah satu gigi gerahamku yang sudah lama berlubang itu kumat lagi. Bahkan gusiku sedikit bengkak.

Penyebabnya sendiri saya tidak tahu persis. Entah karena pola makan yang kurang baik, atau mungkin karena cara pemeliharaan gigi yang kurang baik. Hanya saja, satu hal yang pasti, aku malas memeriksa kesehatan gigiku yang sebenarnya dianjurkan paling tidak enam bulan sekali. Sayangnya, aku hanya pergi ke dokter gigi kalau gigiku terasa sakit saja. Selebihnya, tidak pernah. Entah malas, atau alasan lain. Itu bukanlah kebiasaan yang baik.

Walau kata Meggi Z. sakit hati lebih menyakitkan dibandingkan sakit gigi, tetapi manakala gigi yang sakit ini berdenyut, hidup ini begitu tersiksa, seperti dalam neraka. Saat nyut..nyut...nyut... dengan irama tetap terasa dimulut yang bengkak, saat itulah penderitaan dimulai. Mau makanan dan minum tidak nyaman, mau tidur mata tidak bisa dipejamkan, dan mau melakukan apapun seperti salah tingkah. Bahkan bawaannya ingin marah-marah melulu untuk sesuatu yang tidak perlu.

Kalau sakit gigi saja membuat tidak nyaman dan tidak enak badan, saya tidak dapat membayangkan bagaimana kalau seseorang sedang sakit hati. Sakit hati karena cinta yang putus ditengah jalan, karena kekasih yang diidamkan pindah ke lain hati, atau karena orang yang kita cintai ternyata menghianati. Pastilah ia lebih menderita dan tersiksa daripada orang yang sakit gigi. Pun tidak pernah ada khabar orang yang depresi, bahkan bunuh diri lantaran sakit gigi. Tetapi kalau yang depresi dan bunuh diri lantaran sakit hati bukanlah sesuatu yang aneh lagi. Itu sering terjadi di seantero bumi.

Beruntunglah aku hanya sakit gigi. Lantaran dengan hanya dua tablet analgesic yang aku beli di minimarket pun telah cukup menghilangkan nyut-nyut-nyut-an digusiku. So, walau gusi ini masih bengkak, ternyata aku masih bisa berselancar di dunia maya, masih bisa menulis, juga masih bisa melakukan aktivitas lainnya.

Namun apapun juga, menurutku tetap saja lebih baik tidak sakit gigi dan juga tidak sakit hati.