Selasa, 11 Agustus 2009

Jelang Hari Kemerdekaan

Tanggal tujuh belas Agutus sebentar lagi kan kita jelang. Geliat peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-64 itu sudah mulai dirasakan. Rumah-rumah, gedung-gedung perkantoran, pusat-pusat pertokoan, serta jalan-jalan mulai berhias diri. Bendera, baligho, dan umbul-umbul pun telah mulai dipasang. Suasana desa dan kota terasa lebih semarak dari hari-hari biasanya.

Dari banyak hari bersejarah, peringatan HUT RI selalu paling meriah dirayakan di negeri ini. Bahkan berbagai kegiatan dan acara hiburan selalu menyertainya: panjat pinang, balap karung, tarik tambang, hingga acara hiburan musik dangdut. Lewat beragam acara menarik yang digelar paling tidak kita dapat melupakan sejenak rasa cemas dan khawatir akan munculnya berbagai aksi teror bom dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak berperikemanusiaan seperti yang telah terjadi beberapa waktu silam. Menghilangkan rasa penat selepas pesta demokrasi dengan segala romantikanya. Pun melupakan sejenak segala pilu akan masa lalu.

Namun demikian, semestinya peringatan HUT RI itu bukan hanya menjadi acara seremonial formal semata. Lebih dari itu, peringatan HUT RI itu harus menjadi momentum untuk mengoreksi segala kesalahan dan kekurangan di masa lalu, mempererat tali-tali persatuan yang sempat renggang, menyalakan api semangat juang yang sempat redup, memperkokoh jati diri bangsa yang mulai gamang, serta merajut benang-benang harapan yang sempat hilang.

Bukankah kita menyadari bahwa kemerdekaan adalah buah dari perjuangan yang tidak berkesudahan untuk sebuah keyakinan dan impian tentang masa depan dari para pejuang negeri ini. Untuk itu semua, harta benda rela mereka korbankan, bahkan darah dan nyawa pun tulus ikhlas mereka persembahkan untuk tegaknya sebuah negara dan berkibarnya sang saka merah putih di bumi nusantara. Tiga ratus lima puluh tahun lebih dalam penderitaan adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah kemerdekaan. So, sangatlah tidak pantas kalau kita menyia-nyiakan harta benda yang telah hilang, darah yang telah menetes, nyawa yang telah meregang dari para pejuang bangsa ini.

Walaupun nama para pahlawan dan pejuang telah kita lupakan. Walaupun lagu kebangsaan Indonesia Raya telah jarang kita kumandangkan. Walau teks proklamasi pun boleh jadi sudah menghilang dari ingatan. Walaupun peringatan tujuh belas agustusan sudah enggan kita ikuti. Semoga, rasa cinta masih tertanam dalam dada dan relung jiwa setiap anak bangsa. Semoga semangat juang untuk mengabdi masih terpatri di hati anak negeri. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang mau dan mampu menghargai sejarah bangsanya sendiri?

Semoga darah dan tulang kita masih merah putih. Jiwa raga kita masih Indonesia.