Senin, 06 Juli 2009

Jangan Mati Sia-sia

Di sebuah pool bis antar kota, terpampang spanduk memuat tulisan menarik, sekaligus menggelitik.

Untuk Keselamatan
HATI-HATI
Dengan Pengendara Sepeda Motor

Kalau diperhatikan, himbauan dan peringatan dengan menempatkan 'pengendara sepeda motor' sebagai 'objek' yang harus diperhatikan oleh para awak bis memang terbilang aneh, menggelitik sekaligus mengundang tanya. Karena biasanya himbauan kepada pawa supir bis tersebut berbunyi, "Jangan ngebut, ingat keluarga Anda menanti di rumah", atau "Ingat Anda membawa orang, bukan barang!", "Ngebut berarti maut!", de el el.

Mungkinkah makin banyaknya jumlah pemakai kendaraan roda dua sementara di sisi lain daya dukung jalan raya yang tersedia tidak memadai sehingga kian memperbesar potensi resiko terjadinya kecelakaan? Atau mungkinkah karena saat ini banyak pengendara sepeda motor yang tidak mau peduli lagi dengan semua peraturan yang ada? Mungkinkah ini sebagai cerminan bahwa budaya tertib lalu lintas yang menjadi kewajiban semua pemakai kendaraan hanya ada di slogan-slogan semata?.

Etahlah..... Tapi satu hal yang pasti adalah bahwa kecelakaan di jalan raya yang melibatkan sepeda motor memang cukup mengkhawatirkan. Data dari Departemen Perhubungan menyebutkan bahwa tahun 2008 saja terdapat 18 ribu kasus (sumber lain mengatakan 30 ribu) kecelakaan transportasi jalan raya, yang 70%-nya melibatkan sepeda motor. Sebuah data yang menyedihkan karena teramat banyak manusia yang cedera dan mati sia-sia di jalan raya padahal boleh jadi manusia bisa mencegah terjadinya semua malapetaka itu.

Ironisnya lagi banyak hasil penelitian menyebutkan bahwa rendahnya kesadaran terhadap tata tertib dan peraturan lalu lintas dari para pemakai kendaraan menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan di jalan raya. Tanpa perlu menunjukkan data sekalipun, namun fakta dilapangan menjadi pemandangan kita sehari-hari, misalnya, bagaimana pengendara motor yang tidak memakai helm, dan kalaupun memakainya bukan helm yang memenuhi standar. Belum lagi, yang mereka yang ugal-ugalan seolah mereka punya segudang nyawa cadangan. Atau sering juga kita menyaksikan bagaimana para pengendara motor yang nekad melawan arus, memotong jalur, dan menyalip dengan seenaknya, tanpa melihat kanan-kiri dan bahkan melibas lampu merah, bahkan trotoar pun diubahnya menjadi jalan alternatif dengan tanpa rasa malu dan peduli lagi pada para pejalan kaki yang lebih berhak atasnya.

Lucu, aneh, menggelikan sekaligus menyedihkan melihat sikap, perilaku sebagian masyarakat saat memakai kendaraan di jalan raya. Padahal, menurut pandangan orang-orang bijak, tinggi rendahnya budaya sebuah bangsa dapat tercermin dari sikap dan perilaku saat berkendara di jalan raya. Sebuah pandangan yang tidak berlebihan, masuk akal, dan saya setuju dengan pandangan tersebut. Jadi, saat kita mengagungkan bahwa budaya bangsa kita sopan, ramah, toleran, peduli dengan sesama, semestinya juga tercermin dalam sikap dan perilaku di jalan raya. Namun, kenyataannya tidaklah demikian, bukan? Karena kita masih sering melihat mereka yang ugal-ugalan, saling berebut jalan, tidak peduli rambu-rambu yang ada, tidak mengenal etika dan kesopanan, tidak peduli keselamatan dan kenyamanan orang lain, adalah sebuah realita yang ada.

Semoga kita menjadi bangsa yang lebih berbudaya saat di jalan raya sehingga tidak semakin banyak saudara-saudara kita yang mati sia-sia.