Tampilkan postingan dengan label tips bahagia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips bahagia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juni 2009

Saat Google PageRank Itu Menghilang

Padahal belum lama berselang suka cita itu aku rasakan. Belum hilang pula tebaran aroma kebahagian itu dalam ingatan. Suka cita dan kebahagiaan saat aku mendapat angka pertama PageRank beberapa minggu yang lalu.

Namun, kisah indah sang blogger pemula itu tak bertahan lama. Di penghujung bulan Juni ini, berita duka harus rela aku terima. Saat PR-ku yang hanya semata wayang kembali menghilang dari pandangan.

Perasaan kecewa tak dapat aku sembunyikan. Lebih-lebih disaat aku baru kembali nge-blog setelah hampir empat hari lamanya cuti lantaran kesibukan di dunia nyata yang sungguh menyita waktu, tenaga dan pikiranku. Mungkin agak emosional kalau aku menyebutnya inilah bulan Juni kelabu.

Perasaan sedih pun hampir tak dapat aku enyahkan. Rasa sedih karena hasil kerja keras selama lebih empat bulan seolah sia-sia. Begadang malam-malam yang aku habiskan bersama teman-teman di dunia maya seolah tanpa makna.

Boleh jadi, kesedihan yang aku rasakan itu melebihi kesedihanku saat mendengar berita kematian sang legenda dunia hiburan, King of Pop, Michael Jackson pada hari Kamis tanggal 25 Juni 2009 karena serangan jantung. Bahkan kesedihan itupun boleh jadi melebihi kesedihan atas pemandangan kotaku yang kembali semrawut oleh baligho, poster, spanduk para kandidat para capres dan cawapres yang dipasang tanpa mempedulikan nilai-nilai estetika tata ruang kota yang memang sebelumnya juga sudah tidak karuan.

Aku memang lagi bersedih. Tapi aku tidak akan mencari kambing hitam. Aku pun tidak akan berprasangka buruk bahwa 'mbah Google kurang menghargai semua pikiran yang aku curahkan, pengorbanan yang aku berikan, dan untaian kata yang aku tuliskan selama ini. Karena, di balik kesedihan itu, kini mulai bangkit kesadaran baru. Kesadaran bahwa aku harus lebih banyak belajar tentang SEO, tentang trik dan tips blogging, tentang key word, dan segala hal yang masih belum kupahami.

Dan akupun menyadari bahwa kesedihanku tak boleh menyurutkan langkah, mematahkan semangat, dan mematikan gairah atas semua yang telah aku mulai. Karena, di atas segalanya, di atas simbol-simbol kesuksesan dan popularitas sebagai seorang blogger yang diukur dengan angka 0-10 PR ataupun jumlah digit Alexa Rank, masih ada sesuatu yang lebih bermakna bagi kehidupanku, yaitu PERSAHABATAN.

Meskipun aku tidak mengenal mereka, tidak pernah berjumpa mereka, tidak pernah punya nomor HP mereka, juga tidak pernah tahu asal-usul mereka, tapi merekalah sahabat-sahabatku yang selama ini selalu setia menemani, menghibur, membesarkan hati, memberi dorongan dalam setiap hari-hariku di dunia maya. Bagiku, Google PageRank boleh menghilang, tapi persahabatan tak pernah lekang.

Selamat untuk sahabat-sahabatku yang mendapatkan kenaikan PR, semoga dapat mempertahankan dan meraih yang lebih baik di kemudian hari. Bagi yang senasib dengan diriku, bersabarlah karena harapan itu masih ada.


Rabu, 17 Juni 2009

Tersenyumlah

Ada tulisan di atas gapura sebuah perkampungan yang tanpa sengaja aku lihat siang tadi. Ukuran, bentuknya tidak ada yang istimewa. Hanya tiga kata dengan tulisan sederhana:

"DAERAH WAJIB SENYUM!"

Slogan tiga kata itu cukup menggelitik sekaligus mengundang tanya. Mungkinkah ini sebuah pertanda bahwa tanpa disadari masyarakat kita saat ini tengah dilanda krisis senyum, sebagai dampak krisis finansial, ekonomi, sosial, moral, dan krisis-krisis lainnya sehingga senyum menjadi barang langka? Mungkinkah ini pertanda bahwa kita sudah enggan tersenyum sehingga hanya untuk tersenyum saja perlu diingatkan seperti halnya diingatkan untuk memakai helm, memakai sabuk pengaman, membayar pajak, atau iuran kebersihan lingkungan?

Entahlah, mungkin saja di balik tulisan itu tersimpan harapan besar agar bangsa kita kembali menjadi bangsa yang murah senyum sebagai cerminan jati diri bangsa yang ramah dan berbudaya. Atau boleh jadi, tulisan itu dimaksudkan untuk mensenyumkan masyarakat dan memasyarakatkan senyum.

Namun tentu saja slogan tersebut bukan untuk mengajak kita tersenyum tanpa mengenal tempat dan waktu, tersenyum tanpa alasan yang jelas. Karena kalau seperti itu, jangan-jangan orang yang berpapasan dengan kita akan lari tunggang langgang karena kita dianggap wong edan.

Senyum yang dimaksud pun tentu saja bukanlah senyum sinis yang dapat membuat orang sakit hati dan merasa rendah diri. Bukan pula senyum angkuh yang meremehkan serta mengganggap hina orang lain. Bukan pula senyum sombong yang merasa kita paling hebat dan paling jago. Bukan pula senyum menggoda penuh rayu si kupu-kupu malam yang seringkali membuat para suami lupa sang istri di rumah.

Sejatinya yang dimaksud adalah senyum tulus, yang dapat membawa kedamaian, kebahagiaan haqiqi kepada orang lain. Adalah senyum yang keluar sebagai cerminan dan ekpresi hati yang tenang dan jernih.

Memang, senyum memiliki hubungan erat dengan kondisi emosi seseorang. Dalam beberapa penelitian, senyum dapat merupakan salah satu obat penyakit psikologis yang ampuh. Dengan senyum hidup kita akan lebih bergairah, dan lebih bahagia. Dengan senyum persoalan hidup yang rumit terasa lebih enteng, jauh dari stress atau depresi. Dengan senyum pula tidak akan ada saling curiga, dendam kesumat, dan permusuhan diantara kita. Dengan senyum akan lahir kedamaian, dan ketenangan hidup.

Marilah kita budayakan senyum dalam kehidupan kita, agar dunia dapat tersenyum kepada kita. Smile, and the whole world smiles with you.


Selasa, 26 Mei 2009

Tidak ke Old Traffod, ke Senayan pun Jadi

Dari sekian banyak keinginan, impian, obsesi yang belum kesampaian, salah satunya adalah menyaksikan langsung pertandingan klub idolaku, Manchester United. Ya, langsung, alias live, dan bukan hanya melototin aksi-aksi paling apik mereka di layar kaca selebar 21 inchi saja. Walau aku bukanlah anggota MU Fans Club, entah mengapa, sejak dua puluh tahun silam, aku begitu mengidolakannya, kepincut akan sepak bola indah nan menawan yang diperagakannya, hingga aku rela begadang hingga dini hari demi untuk menikmati si Setan Merah beraksi.

Sebagai satu dari jutaan pendukung klub sepakbola paling beken di seantero jagat raya ini, menyaksikan pertandingan langsung di salah satu stadion paling angker di dunia, Old Traffod Stadium, menjadi obsesi para supporternya.

Sayangnya, tidak semua orang berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana pemegang tiga kali mahkota Liga Champion tersebut mempertontonkan segala kehebatannya. Termasuk juga diriku yang mustahil pergi ke sana, kecuali ada keajaiban, atau mendapat undian dari sponsor mereka. Seperti peribahasa, ingin hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.

Namun, 'pucuk dicinta ulampun tiba'. Bagi para penikmat sepakbola indah, berita kehadiran salah satu klub paling kaya di dunia, asuhan Sir Alex Ferguson, yang akan bertandang melawan tim nasional tanggal 20 Juli 2009 nanti, ibarat setetes air pelepas dahaga di tengah gurun pasir yang kering kerontang. Keinginan menyaksikan langsung gocekan maut CR-7, tendangan keras Rooney, ketangguhan Ferdinand, dan kelincahan si mungil Park Ji Sung tak dapat kubendung lagi.

Kini, lega sudah perasaanku. Keinginan terpendam selama dua puluh tahun lamanya untuk menyaksikan langsung aksi menawan para pemain penuh talenta akan menjadi kenyataan. Memang, dipastikan aroma pertandingan akan jauh berbeda, dan itu tidak bisa dibandingkan saat mereka bermain di kancah Liga Inggris, maupun Piala Champion.

Namun apapun jua, menurutku, inilah pemuas keinginan yang paling layak aku dapatkan. Seperti kata pepatah, 'tak ada rotan akar pun jadi'. Manakala tak mampu menonton langsung di Old Trafford, maka menonton di Senayan pun tidak ada salahnya.

So, dalam hidup ini terkadang tak semua keinginan dapat menjadi kenyataan. Kita harus realistis menakar keinginan sesuai dengan kemampuan dan keadaan. Itulah petuah bijak kehidupan.


Senin, 25 Mei 2009

Saat Harus Menunggu

Menurutku, menunggu merupakan salah satu aktivitas yang menjengkelkan, menyebalkan, dan terkadang membuat pikiran stress bahkan frustasi. Perasaan yang tidak menyenangkan itu bisa dialami oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita dipaksa menghadapinya, suka atupun tidak. Boleh jadi pengalaman itu kita rasakan pada saat menunggu teman kencan datang menjemput, saat menunggu rekanan bisnis yang telah dijanjikan, saat menunggu dipanggil dokter, saat menunggu giliran mencoblos di TPS, saat menunggu kereta api yang datang terlambat tanpa ada penjelasan yang jelas, atau saat menunggu bonus dari boss yang telah dijanjikan.

Dan, bagi seorang blogger mania, perasaan yang menjengkelkan itu seringkali kita rasakan saat menunggu visitor memberikan komentar di ShoutMix chat widget, saat menunggu turunnya Alexa Rank atau naiknya Google Page Rank, atau bahkan saat menunggu Google AdSense, mengirimkan $-nya.

Pada saat menghadapi situasi yang menyebalkan itu, ekspresi setiap orang ternyata beragam. Ada yang mondar-mandir sambil terus menerus melihat jam di tangannya. Ada yang mengomel dan menggerutu tak karuan. Ada yang marah-marah sambil mencari kambing hitam.

Haruskah kita marah, mengomel, menggerutu, berkeluh kesah, dan melakukan aktivitas yang tidak ada manfaatnya sama sekali, apalagi sampai menyudutkan pihak lain yang sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan masalah yang kita hadapi? Tentu tidak, bukan? Karena hal tersebut sama sekali tidak akan bisa memperbaiki keadaan. Malahan, sebaliknya akan menambah beban pikiran.

Sejatinya ada banyak cara, kiat yang dapat kita lakukan agar selama menunggu tidak ada waktu yang terbuang percuma, tidak ada kesempatan yang hilang sia-sia. Dalam situasi dan kondisi apapun, kita masih dapat melakukan hal-hal yang positip.

Bukankah daripada mengeluh, mengomel, berkeluh kesah saat menunggu jemputan datang lebih baik kita memanfaatkan waktu untuk membaca novel, cerpen, atau mendengarkan musik kesayangan kita. Pada saat pengunjung sepi, bukankah lebih baik kita blogwalking berkunjung blog tetangga agar kita dapat kunjungan balik. Daripada memikirkan terus-menerus karena rank Alexa yang tidak mau turun, bukankah lebih baik menggali terus ide, gagasan yang lebih kreatif dan inspiratif.

Dan, postingan kali ini pun ini pun dibuat saat aku menunggu kedatangan seorang sahabat yang ingkar janji. So, tidak ada waktu yang sia-sia selama kita mampu memanfaatkan dan menyikapi keadaan dengan pikiran jernih, tenang, dan positif.

Terima kasih sahabatku yang datang terlambat, karenamu aku dapat memposting satu artikel lagi di blog kesayanganku.

Senin, 20 April 2009

Ada Saatnya Meredam Ambisi

Bagi para fans Manchester United si seluruh penjuru jagat raya, kekalahan dari Everton di ajang piala FA melalui tos-tosan dini hari tadi tentu saja amat disayangkan. Pasalnya, proyek ambisius pasukan si Setan Merah untuk meraih lima gelar sekaligus di tahun ini sirna sudah. Satu peluang kini telah melayang. Namun, kalau dicermati, kekalahan itu sepertinya 'telah direncanakan' sang kreator Sir Alex. Dengan komposisi pemain yang diturunkan di pertandingan tersebut bukanlah tim ideal, jelas, Sir Alex sepertinya tak lagi berambisi meraih kemenangan. Ada apa gerangan? Mengapa ia melepas satu gelar yang sebenarnya berpeluang untuk dimenangkan?

Ada kemungkinan, Sir Alex sadar betul bahwa timnya bukanlah robot. Mereka adalah manusia biasa. Mereka bisa dihinggapi kelelahan, dan resiko cedera. Dengan keterbatasan tim yang dimiliki, dia harus menentukan pilihan, target mana yang paling pantas dibidik. Pilihan yang diambil rupanya melepas ambisi menjadi kampium di ajang FA, kemudian lebih fokus mempertahankan mahkota jawara di Liga Premier dan Liga Champion. Ini sebuah strategi yang cerdas.

Lantas adakah hikmah yang dapat dipetik dari sebuah tontonan yang telah menyita jam tidur kita? Tentu saja ada.

Pertama, hidup ini haruslah realistis. Setiap orang bebas memiliki keinginan, harapan dan impian, dalam karir, bisnis, hubungan sosial dan lainnya. Namun ambisi menggebu saja tidaklah cukup. Ambisi menggebu yang tidak ditopang oleh kesadaran atas kemampuan diri sendiri hanya akan berujung pada kekecewaan dan penyesalan semata. Kemampuan mengukur kekuatan dan kelemahan diri kita adalah strategi hidup yang bijaksana.

Kedua, hidup ini penuh dengan pilihan. Ada kalanya tidak semua pilihan atau peluang yang ada harus kita ambil. Sebagian malah terpaksa dan harus rela kita lepaskan demi meraih pencapaian kehidupan yang lebih baik dan bermakna. Menekuni karir yang sekarang atau mencari karir di tempat lain? Menjadi pengusaha atau menjadi karyawan profesional? Membangun bisnis baru atau mengembangkan yang sudah ada? Dan begitu banyak pilihan yang harus kita ambil di sepanjang perjalanan hidup kita.

Meredam ambisi terkadang terasa menyakitkan. Namun kehilangan semua peluang jauh lebih menyakitkan.

Minggu, 05 April 2009

Hidup Itu Sederhana


Hidup itu sederhana, diri kitalah yang membuatnya rumit dengan rangkaian angan-angan yang tidak berkesudahan, sejuta keinginan-keinginan yang diluar batas kewajaran.

Hidup itu sederhana, diri kitalah yang membuatnya rumit dengan lebih banyak menggerutu daripada mencari solusi atas setiap masalah yang dihadapi, lebih banyak mengeluh daripada kesadaran menerima kenyataan.

Hidup itu sederhana, diri kitalah yang membuatnya rumit dengan rencana-rencana yang tidak pernah mau kita laksanakan, janji-janji yang tidak pernah mau kita tepati.

Hidup itu sederhana, diri kitalah yang membuatnya rumit dengan lebih banyak meminta daripada memberi, lebih banyak berharap daripada berusaha.

Hidup itu sederhana, karena Tuhan telah menciptakan untuk kita semua fasilitas, sarana dan keperluan yang kita butuhkan.

Hidup itu sederhana, karena Tuhan tidak pernah memberikan kepada kita ujian dan cobaan diluar batas kemampuan.

Senin, 23 Maret 2009

Jadilah Dirimu Sendiri

Sahabatku! Walau wajahmu agak mirip dengan wajahku, tingkah lakumu mirip dengan tingkah lakuku, bahkan kebiasaanmu pun mirip kebiasanku - engkau tak akan pernah bisa menjelma menjadi diriku. Sejatinya, engkau adalah engkau dan aku adalah aku.

Sahabatku! Sejujurnya, boleh jadi, aku tidak lebih baik dari dirimu, dan bahkan dirimu boleh jadi tidak lebih jelek dari diriku. Perasaan cemburu, iri, dan ambisi untuk menjadi seperti diriku hanyalah bayangan gelap alam bawah sadarmu. Pada kenyataannya, kecemasanmu, kebimbanganmu tidaklah seburuk apa yang kau bayangkan.

Sahabatku! Sepatutnya engkau bangga pada dirimu sendiri. Mengapa engkau ingin tinggal di istana nan megah, padahal hutan belantara adalah tempat terindah dan syurga bagi dirimu. Mengapa engkau merindukan mahkota bertahtakan intan permata, padahal meski tanpa mahkota engkau tetaplah raja bagi dirimu dan keluargamu.

Sahabatku! Apa yang kau lihat oleh matamu, dan yang kau impikan dalam setiap tidur lelapmu belum tentu seindah apa yang kau bayangkan. Istana megah, mahkota bertahta permata, makanan yang menebar aroma, sanjungan yang penuh pesona terkadang menjadi sumber bencana dan nestapa bagi dirimu.

Sahabatku! Jadilah dirimu sendiri. Engkau tak perlu harus pandai berlari, karena kehebatanmu bergelantungan diantara pepohonan adalah anugrah terindah bagi dirimu. Engkau tak perlu berpakaian seperti diriku, karena ketelanjangan adalah identitas dirimu. Engkau tak perlu bersolek seperti diriku, karena bulu-bulumu yang gimbal itulah daya tarikmu.

Sahabatku! Berbanggalah menjadi dirimu. Jangan pernah bermimpi ingin seperti diriku. Karena sebaliknya banyak saudara-saudaraku yang telah berubah dan menjelma menjadi seperti dirimu.

Sahabatku! Salam hangat buat saudara-saudaramu di hutan belantara sana.

Minggu, 22 Maret 2009

Tips Bahagia di Tengah Krisis

Di tengah krisis yang tidak pernah berkesudahan, bagi sebagian kelompok masyarakat, urusan 'duit' menjadi biang gosip yang paling hangat diperbincangkan di tempat kerja, ataupun di warung kopi. Bahkan, hingar bingar pesta demokrasi pun bisa kalah karenanya.

Tak dapat dipungkiri, kenaikan harga-harga, turunnya daya beli, ketidakpastian masa depan, kian memberikan tekanan ekonomi, emosional dan sosial yang kian berat.

Berikut ini adalah tips yang kiranya dapat berguna dalam menghadapi masa-masa sulit, sehingga hidup kita tetap bahagia, dan pikiran kita tetap rileks.

Ikhlas Menerima Kenyataan

Kita harus menyadari bahwa roda kehidupan selalu berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Ada saatnya hidup dalam kesenangan dan ada saatnya hidup dalam kesulitan. Ada saatnya hidup berkelimpahan, ada saatnya hidup berkekurangan. Seperti firman Allah, "Hari-hari itu kami pergilirkan diantara manusia". Mengeluh, menyesali diri, menyalahkan orang lain, sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah, malahan hanya akan menambahnya.

Tetaplah Optimis

Jangan pernah kehilangan asa. Tetaplah optimis karena setiap kesulitan pasti berakhir, badai pasti berlalu, gelap gulita malam berganti siang yang terang benderang. Jangan pernah kita dikalahkan oleh situasi yang tidak baik. Hadapilah setiap tantangan untuk melatih diri menjadi lebih kuat. Bukankah Allah telah memberi kabar gembira kepada kita, "Susungguhnya bersama kesusahan terdapat kemudahan".

Tetaplah Tersenyum

Tetaplah tersenyum karena ia adalah obat penawar duka lara yang paling mujarab. Tetaplah tersenyum karena dunia yang sumpek akan terasa lebih lapang, beban yang berat terasa lebih ringan, perjalanan panjang yang melelahkan akan terasa lebih menyenangkan, dan rintangan yang terjal menghadang akan terasa lebih mudah untuk dilalui. Tetaplah tersenyum karena ia adalah vitamin bagi jiwa yang sedang resah gelisah.

Berhematlah

Lakukan review atas anggaran belanja rumah tangga sehari-hari. Suatu yang jarang dilakukan manakala kondisi keuangan kita cukup, apalagi saat berlebih. Saat kondisi pemasukan uang yang terbatas, maka langkah yang bijaksana adalah melakukan pengendalian pada anggaran pengeluaran. Buatlah skala prioritas; mana yang penting, dan mana yang tidak penting. Pos anggaran yang tidak perlu dapat dikurangi, dialihkan, ditunda bahkan dapat dihilangkan. Karena boleh jadi defisit anggaran selama ini lebih banyak disebabkan karena faktor ketidakcermatan dalam pengelolaan anggaran. Dan boleh jadi anggaran tersebut hanya sekedar memenuhi keinginan dan bukan kebutuhan hidup kita.

Cari Penghasilan Tambahan

Manfaatkan waktu luang untuk memperoleh penghasilan tambahan. Merintis usaha sendiri, atau menekuni profesi baru yang dapat dijalankan paruh waktu, seperti membuka les/bimbel bahasa asing, menjadi penulis lepas di media cetak, atau membuka toko di garasi rumah, dan lain sebagainya. ***

 

© Created by Kang Rohman