Tampilkan postingan dengan label SEPUTAR KITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEPUTAR KITA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2009

Cuci Otak

Pasca tragedi bom bunuh diri di hotel Ritz Charlton dan JW Mariot beberapa waktu silam, istilah cuci otak alias brainwash menjadi sangat populer. Apalagi setelah diketahui bahwa kejadian yang memilukan itu ternyata melibatkan pemuda-pemuda yang masih muda belia yang konon katanya telah mengalami proses cuci otak.

Istilah cuci otak sendiri, diartikan sebagai proses menghilangkan pendapat, keyakinan dsb. yang ada dan menggantinya dengan yang baru dengan cara paksa dan siksaan psikis dan fisik.

Dalam pemahaman sederhana cuci otak ibarat proses meng-install ulang program komputer dengan program baru yang diinginkan oleh sang penggunannya, sebagian atau seluruhnya. Nah, persoalan yang muncul kemudian adalah apakah program yang diinstall ulang itu adalah program yang original, certified, ataukah program aspal yang telah bercampur aduk dengan malware, atau virus yang justru bukan peningkatan kinerja yang diperoleh, melainkan sebaliknya kerusakan bahkan kehancuran.

Pemahaman umum tentang cuci otak selalu negatif. Hal ini dapat dimengerti, lantaran proses rekayasa pikiran dan keyakinan ini seringkali berhubungan dengan upaya dan tujuan melawan hukum, seperti terorisme dan bom bunuh diri, misalnya. Lantas, kalau cuci otak itu sebuah proses rekayasa pikiran dan keyakinan dari pikiran dan keyakinan lama yang negatif menjadi pikiran dan keyakinan baru yang positif, apakah ini juga bermakna negatif?

Karena boleh jadi otak kita pun saat ini harus sudah dicuci bersih dari segala pikiran kotor, dari debu-debu kemunafikan, dari kontaminasi virus-virus kemaksiatan agar kembali kinclong. Bukankah pikiran yang ingin selalu memperkaya diri, sikap tidak peduli terhadap penderitaan sesama, sikap yang selalu menghalalkan segala cara demi untuk sebuah tujuan adalah virus-virus kehidupan yang harus kita hilangkan? Bukankah sikap yang selalu merasa rendah diri, pesimis, pemalas, berkeluh kesah adalah virus-virus kesuksesan yang harus kita singkirkan?Bukankah sikap yang selalu mendewakan harta dan tahta pun adalah virus-virus kehidupan yang harus kita singkirkan lantaran akan membawa manusia kembali ke titik nadir peradaban?Bukankah semakin meredupnya api semangat kebangsaan dan rasa cinta terhadap tanah air, makin melemahnya jati diri sebagai bangsa yang merdeka adalah pertanda bahwa pikiran dan keyakinan bangsa ini harus dilakukan install ulang?

So, kalau piring, perabotan di rumah saja harus selalu dibersihkan agar terbebas dari kototan. Kalau halaman dan taman pun selalu kita bersihkan agar terjaga keindahannya. Maka sudah selayaknya pikiran dan keyakinan kitapun kita bersihkan dari segala debu dan kotoran agar kembali berfungsi sesuai dengan fitrah Tuhan.


Sabtu, 15 Agustus 2009

Hiburan Tujuh Belas Agustus

Anda ingin melepaskan sejenak rasa penat di kepala setelah sepanjang pekan disibukan pekerjaan dan beban kehidupan yang tak berkesudahan? Atau Anda ingin mencari hiburan akhir pekan yang menyenangkan tetapi tidak perlu menguras anggaran? Atau Anda ingin melemaskan urat saraf tanpa harus pergi ke panti pijat?

Kalau ya, maka akhir pekan ini saat yang tepat. Tak perlu pergi jauh-jauh untuk berlibur akhir pekan yang dapat menghabiskan anggaran. Pasalnya, hampir dapat dipastikan di sekitar tempat tinggal kita akan digelar beragam hiburan lucu dan menarik yang bisa melupakan segala beban pikiran. Hiburan hasil kreasi warga sekitar dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-64. Sebuah tradisi tahunan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Ada banyak acara lomba digelar. Mulai dari balap karung, panjat pinang, balap bakiak, lomba menangkap belut di ember, lomba melintasi batang bambu di atas sungai, tarik tambang, lomba makan kerupuk, lomba menangkap bebek atau ikan di kolam, hingga acara dangdutan. Makin kreatif panitia penyelenggara, makin asyik acaranya. Makin banyak dana swadaya terkumpul, makin meriah acaranya.

Nah, kalau biasanya kita hanya menjadi penonton saja, maka tidak ada salahnya kali ini kita terlibat langsung menjadi peserta lomba tujuh belas agustusan. Pilih saja satu atau dua perlombaan yang akan diikuti. Hanya saja, hati-hati jangan memaksakan diri untuk ikut lomba panjat pinang kalau kita sedang sakit pinggang atau kita mengidap penyakit ketinggian karena itu bisa membahayakan kesehatan diri kita sendiri.

Pada mulanya ada perasaan canggung, segan dan malu terkadang menggelikan saat harus ikut sepakbola dengan pakaian wanita, atau harus makan kerupuk sambil mata ditutup, atau harus jatuh bangun saat ikut lomba balap karung. Namun lama-lama kita akan menikmatinya. Dan dapat dipastikan itu semua yang kita lakukan tersebut akan memberikan pengalaman batin yang luar biasa. Seru dan menyenangkan! Pikiran kita akan terasa nyaman dan rileks, bebas dari tekanan.

Acara tujuh belas agustusan, selain menjadi sarana hiburan yang murah, juga dapat menjadi ajang kita mempererat tali silaturahmi dengan para tetangga yang karena kesibukan sehari-hari jarang kita lakukan. Maka meluangkan waktu untuk ikut terlibat dalam pesta rakyat itu merupakan hal yang amat positif.

Kepedulian kita pun setidaknya memberikan gambaran sedalam apa cinta kita pada negeri ini, setinggi apa hormat kita pada pejuang yang telah merelakan darah dan nyawanya untuk kemerdekaan negeri ini.

Dirgahayu Republik Indonesia!

Selasa, 07 Juli 2009

Mbah Surip dan Mbah Google

Dalam dunia musik, aku ini boleh jadi tergolong manusia aneh. Lantaran, bukan saja kurang 'engeh', juga kurang 'apresiatif'. Tidak banyak jenis musik dan penyanyi yang aku sukai. Hanya beberapa gelintir saja. Semuanya bisa dihitung dengan jari. Paling-paling Iwan Fals, Chrisye, atau Koes Plus.

Makanya, manakala sahabatku dengan berapi-api bercerita tentang seorang penyanyi berambut gimbal bernama Mbah Surip aku hanya terdiam dan bengong saja. Saat mendengar namanya aku mengira bahwa dia adalah sahabatnya kuncen gunung Merapi yang sekarang menjadi bintang iklan salah satu produk minuman berenergi, Mbah Marijan. Atau karena memakai embel-embel 'mbah' aku mengira dia adalah seorang paranormal terkenal seperti halnya Ki Gendeng Pamungkas, atau Ki Joko Bodo.

Hehehe........ malu-maluin yah...... hari gini seorang blogger ngak kenal yang namanya Mbah Surip!!!

Karena rasa penasaran atas obrolan sahabatku itu dan juga sedikit rasa malu.., aku iseng-iseng bertanya kepada sang maha guru Mbah Google. Ehhh..... rupanya emang benar jika selama ini aku ketinggalan informasi terkini soal dunia musik di tanah air. Sedikit terperangah, takjub, sekaligus rasa heran ketika melihat hasil penulusuran Mbah Google yang menunjukkan betapa populernya sang penyanyi nyentrik tersebut.

Tanpa kusadari beberapa situs yang memuat profil, koleksi photo, kisah perjalanan meraih sukses, koleksi video klip, dan kumpulan lagu-lagu mp3 kakek berusia 70 tahun kelahiran Mojokerto Jawa Timur ini aku singgahi, aku baca, aku simak, dan akhirnya aku download juga beberapa karyanya, diantaranya Bangun Tidur.

Sambil blogwalking ke blog tetangga dengan berharap menambah jumlah traffic, serta chatting dengan sahabat lamaku lewat Yahoo! messenger, aku putar lagu hasil download-ku itu.

bangun tidur, tidur lagi
bangun lagi, tidur lagi
bangunnnn, tidur lagi .............. dst

Saat pertama kali mendengar lagunya terkesan aneh, lucu, dan terasa asing di telinga. Namun entah mengapa lama-lama jadi asyik juga. Aku merasakan irama, syair, serta ekpresi yang begitu natural saat sang kakek menyanyikan lagu itu. Seolah memiliki daya magnet yang luar biasa membuat orang betah mendengarnya berulang-ulang. Ada nuansa yang jauh berbeda saat mendengarkan lagu-lagu karya anak-anak muda sekarang ini. Akupun tidak sangsi lagi kalau lagu-lagu karya Mbah Surip ini disukai tidak hanya orang dewasa melainkan juga anak-anak, tidak hanya diputar di warung-warung kopi tapi juga juga di kantor-kantor.

Kehadiran pemusik jalanan bernama lengkap Urip Ariyanto ini merupakan fenomena baru dalam blantika musik di Indonesia. Keberhasilan bersaing ditengah begitu maraknya persaingan menunjukkan bahwa karya-karya Mbah Surip ini memiliki kekuatan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kebanyakan pemusik di Indonesia. Dan kelebihan itu menurutku yang tidak begitu paham tentang dunia musik adalah kesederhanaan, kejujuran, dan kepedulian.

Hingga saat ini memang aku belum mendengarkan semua lagu-lagunya yang katanya telah mengeluarkan empat album, yaitu Ijo Royo-royo (1997), Indonesia I (1998), Reformasi (1998), Tak Gendong (2003) dan Barang Baru (2004). Namun paling tidak sekarang ini aku menjadi salah satu penggemar beratnya Mbah Surip. Dan, hehehe.... sepanjang hari lagu-lagunya selalu menemaniku di sela-sela bekerja, dan berselancar di dunia maya.

Di tengah segudang persoalan hidup yang kian berat, kehadiran Mbah Surip boleh jadi menjadi sedikit pelipur lara, pelepas penat dan melupakan sejenak segala persoalan. Namun bukan hanya itu, dia juga telah memberi inspirasi bahwa selama hidup jangan pernah berhenti belajar, selalu bekerja keras dan pantang menyerah, hidup dalam kesederhanaan, mengutamakan kejujuran dan kepedulian terhadap sesama.

Selamat dan sukses selalu buat Mbah Surip!


Minggu, 26 April 2009

Renungan Tentang Orang-orang Duafha

Saat panggung politik negeri ini disuguhi berbagai adegan manuver para elit partai yang tengah kasak-kusuk menghimpun kekuatan, membangun koalisi, dan menggadang para jagoannya menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden, justru di panggung lainnya kita masih disuguhi tontonan yang mengenaskan, memprihatinkan, menebar iba serta menusuk hati nurani. 

Ya, di sudut-sudut remang kehidupan, di pojok-pojok kegelapan malam, di sekitar kita, di balik hingar-bingar pesta, masih ada puluhan juta orang yang tengah berjuang melawan ganasnya roda-gila zaman. Kejamnya ketidakadilan pembangunan yang mereka rasakan seolah-olah telah mengubur harapan, dan meluluhlantakan impian masa depan. Yang tersisa hanyalah nyanyian duka lara lewat nada-nada yang menyayat sukma.      

Saat ratusan milyar rupiah dana kampanye digelontorkan demi merebut tahta kekuasaan, jutaan saudara-saudara kita boleh jadi sedang meradang menahan rasa lapar, menggigil menahan hawa dingin, menangis menahan rasa sakit. Sungguh saat ini masih begitu banyak saudara-saudara kita tak mampu membeli makanan, tak memiliki tempat berteduh yang layak, tak memiliki pekerjaan tetap, tak memiliki kesempatan sekolah, bahkan boleh jadi mereka tak lagi memiliki harapan tentang masa depannya sendiri. 

Ancaman kemiskinan dan kehilangan harapan masa depan adalah menu keseharian dan kawan seperjuangan mereka. Namun, walau tangan-tangan mereka lemah, hati-hati mereka terkoyak, jiwa-jiwa mereka goyah, boleh jadi mereka tidak ingin menjajakan iba, tidak meminta belas kasihan, dan tidak memaksa uluran tangan orang lain. Boleh jadi mereka hanyalah menginginkan sedikit rasa empati dari para petinggi negeri karena mereka juga adalah putra-putri ibu pertiwi yang lahir dan hidup di negeri ini. 

Walaupun merupakan salah satu kewajiban negara, namun, tentu saja, mengulurkan tangan membantu saudara-saudara yang sedang menderita hakekatnya merupakan kewajiban kita semua. Kewajiban kita untuk membangkitkan kembali harapan dan semangat hidup yang masih tersisa. Kewajiban kita semua menghapus air mata duka lara mereka. 

Kamis, 23 April 2009

Renungan di Hari Kartini

Bagi kaum perempuan, tanggal 21 April, merupakan momen yang paling bersejarah. Adalah seorang perempuan Kartini, yang berhasil meletakan tonggak sejarah baru bagi sebuah gerakan yang menuntut persamaan hak antara kaum perempuan dan laki-laki, atau yang kita lebih kenal dengan emansipasi.  Sebuah semangat perubahan dalam upaya mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan.  

Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, catatan di pagi hari ini, tidak dimaksudkan untuk menceritakan sosok Kartini yang telah memberikan begitu banyak inspirasi, semangat, motivasi bagi kaum perempuan di negeri ini dalam memperjuangkan hak-haknya di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum dan bidang kehidupan lainnya.         

Bagi seorang yang tidak begitu memahami sejarah Kartini, tulisan ini pun tidak dimaksudkan untuk mempertanyakan apakah gerakan emansipasi yang diperjuangkan oleh para aktivis kaum perempuan itu tidak salah kaprah dan tidak menyalahi fitrah sebagai kaum perempuan?. Ataukah gerakan emansipasi yang diperjuang oleh mereka masih sejalan, sejiwa, searah dengan apa yang diinginkan oleh sang pelopor, Ibu Kartini kala itu?. 

Entahlah... 

Yang pasti saya hanya sedang merenung..... seperti apakah sosok pejuang Kartini masa kini. Apakah sosok kartini sejati hanya mereka yang berada di puncak karir, di puncak popularitas, di puncak tangga kehormatan dengan sederet prestasi dan prestise yang disandangnya? Apakah sosok kartini sejati hanya milik mereka yang duduk di singasana emas bermahkotakan intan permata? Apakah sosok kartini sejati hanya milik mereka yang ingin meyakinkan bahwa mereka sama hebatnya seperti kaum hawa? 

Entahlah .....

Yang pasti, menurutku, sosok Kartini sejati adalah ibuku, nenek dari anak-anakku. Dialah perempuan yang tidak pernah bercerita sedikitpun tentang siapa itu Ibu Kartini, dan apakah itu emansipasi apalagi yang namanya kesetaraan gender. Dialah perempuan yang bangga dan bahagia dengan keperempuanannya. Dialah perempuan yang 24 jam waktunya dihabiskan untuk anak-anak dan keluarganya. Dialah perempuan yang menyuapi, menceboki, memandikan anak-anaknya dengan penuh keikhlasan. Dialah perempuan yang mengajarkan anak-anaknya membaca, mengaji, dan memberi petuah bijak kehidupan. Dialah perempuan yang kasih sayang pada keluarganya mengalahkan semua jargon-jargon tentang emansipasi.

Kamis, 16 April 2009

Siap Menang, Ya, Siap Kalah!

Dalam sebuah kompetisi, dalam hal apapun, akan ada yang tampil menjadi pemenang, namun tentu adapula yang harus kalah. Sejatinya, menang dan kalah bukanlah sesuatu yang luar biasa, karena itu hanyalah bagian dari drama kehidupan. Hanya saja, diri kita terkadang begitu berambisi dan terobsesi akan manisnya kemenangan, tapi seringkali lupa mempersiapkan diri menerima pahitnya kekalahan. 

Perlu bukti? Lihatlah kejadian yang banyak terjadi akhir-akhir ini di sekitar kita. Para caleg yang menjadi stress bahkan defresi gara-gara ia kalah dalam pemilu legislatif beberapa waktu lalu. Atau ada juga yang menjadi gila gara-gara gagal menjadi bupati dalam sebuah pilkada. Bahkan adapula yang melampiaskan kekesalan, kekecewaan, dan ketidakpuasannya dengan bertindak kasar bahkan mengarah anarkis.

Ah.... perasaan heran, bingung bercampur aduk menjadi satu. Mengapa diri kita enggan berjiwa besar, berlapang dada menerima setiap kekalahan? Mengapa diri kita terkadang begitu sulit menyadari bahwa dalam sebuah kompetisi pasti ada yang kalah dan ada yan menang? 

Menang dan kalah adalah sebuah keniscayaan. Dan pemenang sejati bukanlah hanya mereka yang berdiri di podium kehormatan, berkalungkan medali kemenangan dengan piala dalam genggaman semata. Pemenang sejati adalah mereka yang menang tetapi tidak menepuk dada, dan mereka yang kalah tetapi tidak patah semangat. Pemenang sejati adalah mereka yang tetap berdiri tegak walaupun kaki-kaki mereka lemah, berjiwa tegar walau hatinya sedang dirundung duka, pikiran mereka jernih walau kekalahan itu terasa menyakitkan.    

Kekalahan tak semestinya kehilangan kendali, jati diri, dan orientasi. Anggaplah kekalahan itu jamu kuat yang terasa pahit di lidah namun menyehatkan badan. Anggaplah kekalahan itu sebuah kesuksesan yang tertunda. Anggaplah kekalahan itu cambuk untuk diri kita bekerja lebih keras, berjuang lebih sungguh-sungguh, dan berdoa lebih khusyu. 
 

Rabu, 08 April 2009

Bingung, Yontreng Siapa Yach?

Jam 11.30 wib. Sudah larut malam, tapi mata ini belum juga mau terpejam. Mungkin karena hatiku masih bimbang, ragu dan galau belum punya pilihan kepada siapa 'suara' ini akan aku berikan di pemilihan umum esok hari. Tak ada seorangpun caleg dari partai peserta pemilu yang aku kenal dengan baik, selain hanya melihatnya dari poster, baligho, billboard yang terpampang beberapa waktu lalu. Itu pun hanya selintas saja, sambil lewat. 

Mungkinkah diriku saja yang bingung? Atau malah sebaliknya banyak teman-teman yang sama-sama bimbang dan ragu seperti diriku? Gejala apakah ini? Apakah para caleg di wilayahku kurang sosialisasi? Ataukah memang aku yang kurang peduli terhadap pesta demokrasi di negeri ini?. 

Aku memang pantas bingung, karena menurut petinggi negeri ini suaraku akan turut menentukan sejarah perjalanan bangsa dan negara ini lima tahun ke depan. Dan aku pantas bimbang karena memilih pemimpin itu selain hak warga negara juga merupakan kewajiban. Jadi kalau tidak memilih kan dosa, lho..? 

Tapi, siapa yang harus aku pilih? Pantaskah aku menentukan pilihan seseorang yang menjadi wakil diriku di parlemen hanya dengan melihat, membaca slogan dari media promo yang berserakan di sana sini?. Pantaskah aku memilih seorang wakil rakyat yang aku sendiri tidak yakin kredibilitas, kapabilitasnya dan rekam jejaknya?  

Entahlah, yang pasti jarum jam di dinding rumahku terus bergerak, waktu pun terus berlalu. Jam 12.00 tepat. Malam semakin larut. Mataku mulai terasa berat. Rasa kantuk yang hinggap mulai mengalahkan rasa ragu dan bimbang. Dan, akhirnya aku putuskan. Tidur saja. Siapa tahu selama tidur aku bermimpi dan mendapat ilham kepada siapa esok pagi suaraku akan aku berikan...... 

Zzzz ... Zzzz ....Zzzzz

Selasa, 07 April 2009

Minggu Tenang ... Pemilu Jelang

Minggu tenang, ini hari. Masa kampanye itu telah usai. Kotaku terasa lebih lenggang dari biasanya. Haru biru pesta demokrasi seolah berlalu.
     
Atribut-atribut partai dan para caleg yang sebelumnya memenuhi sudut-sudut kotaku hingga hampir tiada ruang kosong tersisa, kini satu demi satu mulai dipreteli, dan telah mengisi ke tong-tong sampah. Tidak terlihat lagi para photo model dadakan yang terpampang di sudut jalan, tiang-tiang listrik dan dinding bangunan. Pemandangan kotaku yang sebelumnya amat sumpek, semrawut, kini sedikit terasa lebih enak dipandang. 

Minggu tenang, ini hari. Saatnya para macan panggung beristirahat, memulihkan stamina, setelah berlalu lalang dari panggung ke panggung, berteriak lantang membakar semangat para simpatisannya hingga tiada tersisa lagi suaranya.    

Minggu tenang, ini hari. Para calon anggota dewan sedang menanti, penuh harap dan cemas. Apakah ribuan masa yang mereka kerahkan pada saat kampanye terbuka benar-benar akan memilihnya? Apakah uang kadeudeuh, dana partisipasi, dana sosial, sumbangan sukarela, dan lain sebagainya yang mereka telah berikan akan mempengaruhi calon pemilihnya? Apakah janji-janji dan program-program yang mereka sampaikan dapat tepat sasaran? 

Minggu tenang, ini hari. Saatnya para pengusaha cetakan, kaos dan beragam atribut kampanye, para pengusaha biro iklan, para pengusaha media,  para konsultan kampanye, boleh jadi saat ini tengah duduk bersantai dengan wajah sumringah, karena jutaan, ratusan juta, bahkan mungkin milyaran rupiah telah masuk ke rekeningnya, menambah pundi-pundi kekayaannya.  Dan boleh jadi mereka sedang berdoa, semoga pemilu dilaksanakan setiap minggu, biar mereka cepat menjadi konglomerat, ha..ha...ha....!

Minggu tenang, ini hari. Para rakyat hanya bisa berharap semoga janji-janji mereka dapat dilaksanakan. Harapan dan impian menjadi kenyataan. Ataukah sebaliknya, mereka sedang menanti serangan pajar dari para calon anggota dewan di pagi hari? he...he....he.... 

Minggu tenang, ini hari. Bagiku adalah waktu untuk menunggu agar aku bisa terus menulis di blog kesayanganku. 

MARI SUKSESKAN PEMILU 2009!
SELAMAT MENJADI PEMILIH YANG BIJAK!. 
JANGAN SALAH PILIH WAKIL-WAKIL KITA!  


Senin, 06 April 2009

Hedonisme, Titik Nadir Peradaban?

Globalisasi yang didorong oleh kemajuan di bidang iptek, telah memberi pengaruh amat dahsyat pada setiap sendi-sendi kehidupan umat manusia di penjuru jagat raya. Sebuah lompatan perubahan zaman yang tak bisa dihentikan. Ia menerjang laksana gelombang pasang dan menarik siapa saja ke dalam pusarannya. 

Persoalannya, akankah ini membawa umat manusia kepada sebuah peradaban baru, atau malah sebaliknya mendorong pada titik nadir peradaban. Perlahan namun pasti, perubahan radikal tatanan budaya lokal, maupun tata nilai sosial yang dianut tengah terjadi.  

Dan salah satu sisi gelap gelombang perubahan zaman adalah sikap dan perilaku manusia yang semakin mendewakan materi dan terperangkap dalam pusaran kehidupan bendawi. Inilah yang disebut budaya hedonisme di mana kesenangan dan kenikmatan materi menjadi tujuan utama. 

Tanpa disadari, bukankah seringkali kita memandang manusia dari bentuk luarnya saja: uang yang dimilikinya, rumah yang ditinggalinya, mobil yang dikendarainya, perhiasan yang dikenakannya, gelar yang disandangnya, dan jabatan yang dikuasainya. Bahkan, kesuksesan dan kegagalan seseorang seringkali hanya diukur dari indikator materi. 

Lebih celakanya lagi, karena materi ditempatkan dalam puncak piramida tujuan hidupnya, maka sangatlah tidak mengherankan seseorang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan hidupnya. Melanggar norma adalah hal biasa. Melanggar etika adalah hal lumrah. Bahkan melanggar hukum seolah menjadi budaya.  

Haruskan perubahan zaman ini kembali ke era kegelapan? Ataukah sebaliknya masih ada harapan menuju era pencerahan?  Jawabannya ada dalam dada dan jiwa kita sendiri. 

 

© Created by Kang Rohman