Senin, 04 Mei 2009

Berani Bicara di Depan Umum

Bagi sebagian orang, berbicara di depan umum, bahkan walau hanya untuk berbicara informal dalam kelompok kecil sekalipun, seperti di acara rapat kerja di kantor, ataupun rapat RT, merupakan momok yang paling menakutkan. Biasanya, ketika akan diminta untuk memberikan sambutan, atau menyampaikan pendapat, perasaan yang tidak nyaman tiba-tiba muncul.

Pada saat mau tampil, entah mengapa, tiba-tiba keringat membanjiri sekujur tubuh, lutut bergetar keras terasa lemas, perut mual dan mules terasa mau muntah, mulut terasa kaku dan lidah pun terasa ngilu. Sorot mata orang-orang yang ada di hadapan kita tiba-tiba saja berubah menjadi yang aneh dan menakutkan.

Cengkraman rasa takut berbicara di depan umum pada kasus tertentu dapat menghambat karir seseorang, khususnya untuk bidang pekerjaan yang sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan berkomunikasi secara formal, dan langsung dengan orang lain.

Bagaimana cara mengatasinya? Banyak cara, kiat, tips yang dapat dilakukan untuk mengatasi rasa takut berbicara di depan umum. Berikut ini adalah salah satunya.

Ubahlah persepsi dalam pikiran kita. Mengapa? Karena kemampuan kita dalam melakukan sesuatu banyak dipengaruhi oleh bagaimana persepsi diri kita terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi. Saat presepsi yang dibangun adalah persepsi negatif, seperti perasaan tidak mampu, perasaan belum siap, perasaan khawatir ditertawakan orang lain, maka yang terjadi adalah apa yang kita dipersepsikan. Namun, apabila kita mampu membangun persepsi positif, maka kepercayaan diri akan timbul, perasaan kita merasa tenang, santai, dan dengan sendirinya kemampuan diri kita dapat diekplorasi. Anggap saja berbicara di depan umum seperti kita ngobrol di telpon, chatting di internet atau ngobrol di warung kopi.

Berani mencoba. Jangan pernah kalah sebelum berperang, atau ulah kumeok memeh dipacok, peribahasa Sunda mengatakan. Beranikan diri untuk mencoba apa yang kita takutkan. Dengan mencoba maka secara perlahan rasa percaya diri akan timbul. Sangat berat memang mengatasi rasa takut yang mencengkram itu. Tetapi manakala telah selesai melakukannya, rasa lega dan perasaan lapang akan kita rasakan menjalar ke seluruh sukma. Karena, apa yang kita takutkan tidaklah sengeri apa yang kita bayangkan sebelumnya. Rasa waswas, khawatir hanyalah ilusi belaka.

Berlatihlah. Manfaatkan setiap kesempatan untuk berlatih berbicara. Dan ini dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, pada saat rapat di kantor, atau rapat panitia di lingkungan RT misalnya. Manfaatkan momen ini untuk berlatih. Cobalah untuk berani menyampaikan pendapat, saran atau usul. Kalau sudah terbiasa, maka secara perlahan hal ini akan membentuk kepercayaan diri bahwa bicar didepan umum adalah sesuatu yang biasa saja.

Selamat mencoba dan semoga sukses!.

Jumat, 01 Mei 2009

Renungan Kematian

Walaupun judulnya bisa membuat bulu kuduk meriding, tulisan ini bukanlah resensi tentang film horor. Bukan pula uraian khutbah jum'at para khatib di mimbar-mimbar mesjid. Buka pula ceramah para kiyai, para ustad di acara siraman rohani para jamaahnya.

Ini hanyalah renungan di hari jumat dari seorang pengembara hina. Renungan seorang hamba di dunia fana yang hatinya sedang resah, jiwanya sedang gundah-gulana.

Yang sedang resah karena tidak yakin esok hari masih bisa menulis lagi, blogwalking ke tetangga dan sahabat, atau chatting dengan kawan lama. Yang sedang resah karena kematian dapat datang kapan saja dan tak ada seorangpun yang dapat menolaknya. Kematian tak dapat ditawar dengan segudang intan permata, ataupun bujuk rayu. Kematian tak mengenal belas kasihan. Kematian tak peduli dengan para penjaga di sekeliling. Kematian dapat menembus tebalnya tembok baja, dan kokohnya dinding besi. Kematian telah dituliskan dalam buku catatan Tuhan.

Adalah renungan seorang pengembara hina yang jiwanya sedang gundah-gulana karena masa-masa yang dijalaninya, semuanya seolah hampa tanpa makna. Hampir tak ada waktu tersisa untuk mengenal siapa pencipta dirinya. Hampir tak ada ruang terbuka untuk menerima hidayah-Nya. Hampir tak ada waktu untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Hampir tak ada keinginan untuk bersujud dan menyembah pada-Nya. Bahkan hampir tak ada kerelaan dan kesabaran atas segala ujian dan cobaan yang berikan oleh-Nya.

Yang ada hanyalah nafsu menumpuk harta benda, merangkai keinginan tanpa batas. Yang ada hanyalah mengeluh dan mencari kambing hitam. Yang ada hanyalah hasrat mencerca dan menghina sesama. Yang ada hanyalah syahwat angkara membara.

Adalah jiwa yang terlena oleh manisnya dunia, harumnya aroma anggur-anggur memabukan, megahnya istana para raja, dan gemerlapnya intan permata. Adalah kegundahan seorang pengembara ketika kematian datang menjemput, sementara kehinaan masih menghiasinya, lumpur-lumpur dosa masih mengotorinya, dan pintu-pintu tobat belum diketuknya.

Ini hanyalah renungan sekaligus pengharapan seorang pengembara hina, agar masih ada waktu tersisa sebelum kematian datang di depan mata.
 

© Created by Kang Rohman